Budi Suryanto Narana Group

Survival Mode ala Pohon Kurma

Dalam beberapa kali perjalanan umroh, antara perjalanan dari Madinah menuju Makkah ada satu hal yang membuat saya takjub dimana di tengah gurun pasir yang kering, jarang ada air, bercuaca sangat panas dan tandus tapi pohon kurma mampu tumbuh dan berbuah. Pohon kurma yang tumbuh itu mampu bertahan di kondisi suhu yang waktu itu saya cek di 43 derajat celcius, sangat ekstrim bahkan pastinya terpaan badai gurun tropis padang pasir yang dahsyat sering di alami.

Satu saat hal ini memunculkan rasa kepo saya, mengapa pohon kurma bisa kuat bertahan seperti ini ? Pertanyaan itu saya ajukan ke pembimbing umroh, tapi belum bisa menjawab rasa penasaran saya,  yang akhirnya mencoba tanya ke mbah google, dari referensi yang saya dapat hasilnya membuat saya sadar bahwa kenapa pohon kurma bukan saja bisa tetap hidup tapi dia bisa jadi penanda adanya kehidupan di tengah gurun pasir karena kemungkinan besar dibawah permukaan sekitar pohon kurma terdapat sumber mata air.

Bagaimana caranya pohon kurma di jazirah arab dapat tumbuh di tengah gurun pasir yang gersang dan tandus tersebut ? Pohon kurma ditanam oleh para petani di gurun pasir yang gersang dengan memasukkan bibit pohon kurma yaitu berupa biji kurma yang dimasukkan ke dalam lubang pasir. Kemudian lubang tersebut ditutup dengan sebuah batu. Karena ditutup oleh batu, maka pertumbuhan bibit pohon kurma tersebut, yang seharusnya keatas menjadi terhambat, dan sebaliknya pertumbuhannya akan berbalik menjadi tumbuh ke dalam tanah dengan maksimal, hingga mampu menemukan lapisan sumber air dibawah tanah, seberapa dalam pun lokasi air berada. Tak mengherankan bila akar-akar pohon kurma sangat kuat dan panjangnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan meter. Setelah akar-akarnya menjadi kuat, barulah tunas kurma tersebut akan bertumbuh ke atas dengan kokoh, hingga mampu menggulingkan/memecahkan batu yang menekan dan menutupi lubang tanamnya. Akar-akar pohon kurma yang kuat inilah yang membuat pohon kurma kuat bertahan hidup, ditengah kondisi ektrem gurun pasir yang kering, panas dan tandus serta seringkali menghadapi badai gurun yang sangat dahsyat.

Fenomena pohon kurma dengan cara menanam kurma seperti itu, menjadi sebuah renungan yang sarat dengan hikmah. Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon kurma”.

Pelajaran dan hikmah apa yang kita dapat ambil dari fenomena pohon kurma dan cara menanamnya ini ? Yuk kita coba renungkan…

“Biji pohon kurma yang ditutup batu, akan mengalami tekanan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah”. Disini pohon kurma dengan segala fenomenanya mengajarkan manusia untuk hidup dan bertumbuh dengan benar, agar mampu keluar menjadi pemenang. Yaitu, menjadi manusia yang sabar, kuat, tegar, tangguh, ulet serta kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Hadirkan selalu cara pandang positif atas segala tekanan, cobaan dan tantangan yang kita temui dalam kehidupan. Yakinkan bahwa semua itu adalah cara Allah untuk mendidik dan menempa kita agar memiliki pondasi kehidupan yang kokoh.

Tekanan hidup tidak akan mampu melemahkan dan menggoyahkan kita, bahkan sebaliknya akan membuat kita menjadi pribadi yang sabar, kokoh, tegar dan kuat untuk akhirnya menjadi pemenang kehidupan. Tekanan Hidup adalah Cara Allah untuk menjadikan kita pemenang

Allah hadirkan kesulitan, tantangan dan tekanan hidup bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, malah  sebaliknya, Allah mengizinkan tekanan hidup itu kita hadapi, agar membuat kita berakar semakin kuat. Seperti pohon kurma, tidak sekadar bertahan, tapi pada waktunya nanti, benih yang sudah mengakar kuat itu, akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan bukankan di balik setiap krisis akan ada muncul peluang – peluang baru.

Hikmah utama yang bisa kita ambil dari pelajaran pohon kurma ini adalah Kehidupan yang lebih baik akan diperoleh setelah melalui perjuangan yang berat.

Seperti pohon kurma yang akan tumbuh dengan begitu kuat dan kokoh hingga akhirnya mampu menghasilkan buah-buah kehidupan yang begitu manis saat usianya dewasa hingga masa tuanya.

Bagaimana dengan kita ? bukankan sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan kemanfaatan , dan itu merupakan satu tanda bahwa kita masih hidup.

Salam Synergypreneur