Ingin Resign ?

Satu renungan yang bisa jadi salah satu bahan pertimbangan untuk Anda yang ingin mengajukan resign demi mengejar mimpi besar agar dapat berpikir lebih jernih, sekaligus menjadi penyeimbang dari arus ajakan untuk resign tanpa mikir panjang yang demikian deras menerjang beberapa tahun belakangan ini.

Faktanya, menjadi entrepreneur, membuka usaha, bisnis, dagang atau bahkan mengatur waktu secara mandiri untuk mewujudkan impian yang Anda idamkan bukanlah hal yang mudah. Tidak segampang jadi bahan obrolan saat di warung kopi.

Jika ada satu hal yang pasti di dunia ini, itu adalah: tidak ada hal yang benar-benar pasti ( kecuali kematian )

Sayangnya, saat Anda memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan rutin tanpa punya rencana, strategi atau cadangan logistik yang matang, maka Anda membuat keadaan menjadi super tidak pasti. Dan itu berbahaya.
Mereka yang punya rencana matang, strategi kuat dan modal yang banyak saja bisa salah melangkah, apalagi yang cuma nekat, emosi sesaat atau sekedar ikut-ikutan saran dari youtube, buku atau seminar, yang dijamin penulis atau pembicaranya tak akan peduli saat Anda harus terlunta-lunta.
Tentu yang paling runyam jika Anda sudah memiliki tanggungan yang tak bisa cuti untuk dinafkahi setiap hari. Saya percaya, kondisi tersebut tidak Anda inginkan karena sungguh tidak menyenangkan.

Hati -hati dengan pernyataan berikut sebagai alasan untuk Resign untuk memulai bisnis ;

  • Sudah jenuh dengan kerutinan pekerjaan & semua sudah jelas dan ingin menjadi sebebas merpati;
    Disini saya ingatkan sebagai pengusaha yang 18 tahun menjadi karyawan merasakan Jika kita tidak cerdik mengatur pekerjaan, mungkin tak akan ada yang benar-benar selesai tepat pada waktunya sesuai keinginan apalagi sebagai entrepreneur.
  • Untuk mencari kebebasan waktu;
    24 jam sehari, seluruhnya punya Anda. Jika tak pandai membiasakan diri, mengatur waktu dan pintar-pintar menjaga semangat, waktu yang ada punya justru akan terbuang percuma.
  • Dari konsisten dan komitment yang terus dipaksakan, dari diatur bos menjadi fleksibel abis;
    Jika tak jago mengontrol mood, lingkungan serta suasana bekerja, konsistensi bakal jadi sesuatu yang sangat menantang.
  • Berpikir bahwa bisnis adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan;
    Perlu anda ketahui bahwa bisnis tidak semudah yang dipikirkan. Bahkan anda akan pusing jika tidak menyiapkan hal-hal yang perlu, Anda harus mempersiapkan cadangan peluru sebelum berperang.

Dan meski kata “entrepreneur” memiliki arti harfiah “penanggung risiko”, bukan berarti Anda harus mengambil risiko ekstrim yang berujung kepada chaos yang tak tentu arah. Malah seharusnya, risiko itu diatur, diminimalisir dan sedapat mungkin dihindari. Pastikan anda punya modal. Modal yang dimaksud di sini bukan hanya uang. Tapi juga mental siap untuk gagal.

“Banyak pengusaha yang berani mengambil banyak risiko, tapi mereka biasanya adalah pengusaha gagal, bukan yang sukses.”

Malcolm Gladwell

Dilansir dari Bloomberg, 8 dari 10 pengusaha mengalami kegagalan pada 18 bulan pertama bisnis berjalan.

Lalu mengapa Anda harus mengambil risiko besar ?

Demikianlah, setiap pengusaha dituntut untuk konsisten menghasilkan serta mampu mempertahankan bisnisnya, baik saat angin sedang bagus maupun ketika terjangan badai dan topan melanda.

Lalu pertanyaanya: jika belum siap, mengapa Anda terburu-buru resign?

Tidak ada salahnya juga untuk menjadi karyawan, selama itu cukup untuk Anda, dan bisa menabung setiap bulannya.

Jika Anda belum siap untuk merasakan bangkrut, sebaiknya jangan jadi pebisnis.

Baca Juga : Satu Hal yang Pasti dialami Pengusaha

Kedua-duanya masih sama sama menghasilkan uang bukan? Jadi tidak ada salahnya menjadi karyawan atau memang harus jika menjadi pengusaha, keduanya sama baiknya menurut saya.

Pernah mendengar quote “setinggi apapun pangkat yang dimiliki, anda tetap seorang pegawai, sekecil apapun usaha yang anda punya, anda adalah bosnya”? Yes, ini bener sih, tapi gak salah kan kalau jadi karyawan? toh mau jadi karyawan atau pengusaha pasti dimulai dari langkah kecil dan tidak serta merta langsung sukses.

Yang salah itu, kalau kita jadi karyawan tapi masih:

  • Banyak mengeluh, semua dikeluhkan, perusahaan dijelek-jelekkan, padahal masih makan dari gaji perusahaan
  • Tidak belajar skill baru sehingga ketinggalan gerbong terus, dan ujung-ujungnya kembali mengeluh
  • Tidak dapat promosi karena lack of capability, ujung-ujungnya mengeluh lagi
  • Tidak gaul, tidak punya lingkungan pergaulan yang luas, tidak dikenal banyak akhirnya mengeluh lagi

Jadilah karyawan yang punya sifat kebalikan dari 4 poin diatas, belajar terus, bangun networking yang baik, dapatkan promosi karena kemampuan anda bukan karena sikut kiri kanan, earn more money !.

Baca Juga : Karyawan Bermental Entrepreneur

Nah, bagaimana jika menjadi pengusaha? ya pastinya lebih bagus juga, untuk jadi pengusaha butuh banyak hal, seperti :

  1. Keberanian memulai sesuatu yang baru
  2. Punya modal untuk memulai (skill dan duid)
  3. Berani melakukan kesalahan tapi belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik
  4. Mentor bisnis yang bisa membersamai

Baca Juga : Ingin Menjadi Pengusaha ?

Jadi, jelas keduanya baik, jadi karyawan atau pengusaha sama baiknya, silahkan pilih jalan anda.

Pesan saya….
Jadilah karyawan hebat atau pengusaha yang sukses, kemudian jadilah manusia yang bisa berguna bagi orang lain.

#ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan penulis silakan tulis di komen atau silahkan hubungi melalui WA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *